Sabtu, 06 Februari 2016

Museum Nasional, Jakarta Pusat



Berbicara mengenai museum di Jakarta, mungkin yang pertama kali terlintas dalam benak adalah Museum Nasional. Museum yang telah berdiri sejak tahun 1778 ini adalah salah satu destinasi andalan yang digemari oleh para pelancong, baik domestik maupun mancanegara. Bangunan yang kerap kali dijuluki Museum Gajah karena dahulu terdapat sebuah patung gajah pemberian Raja Chulalongkorn dari Thailand pada tahun 1871. Dengan sebuah lorong kaca yang menghubungkan gedung lama dan gedung baru, museum ini nampak luas dan megah. Kedua gedung masing-masing memiliki satu lantai dan empat lantai, yang dilengkapi sebuah kantin dan toko cinderamata di lantai bawah tanah.
            Jika ingin melihat koleksi patung-patung dari seluruh penjuru nusantara, pengunjung dapat mengunjungi gedung lama lantai satu. Di sana terdapat arca peninggalan masa Hindu dan Buddha, Ruang Sejarah Prasejarah, Rumah adat, koleksi keramik, tekstil, etnografi, arkeologi dan perunggu. Untuk gedung baru dibagi menjadi empat ruangan yaitu Manusia dan Lingkungan, Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi, Organisasi sosial dan Pola Pemukiman, Khasanah Emas dan Keramik. Koleksi-koleksi yang bernilai estetika ini diabadikan di dalam suatu ruangan yang indah serta tertata dengan rapi. Tidak hanya dipamerkan, namun koleksi-koleksi ini pun dirawat dan dijaga dengan baik.
            Menurut Bapak Hafid, museum ini sendiri memiliki manfaat yang sangat beragam sesuai dengan pandangan dan kebutuhan dari masing-masing pengunjung. Hal ini mencakup bidang pendidikan, rekreasi, dan hanya sekedar pengetahuan umum. Bagi para karyawan museum itu sendiri, manfaat yang mereka dapat antara lain sebagai sarana penyaluran hobi dan kesukaan mereka, contohnya Bapak Hafid sendiri yang menyukai sejarah, sehingga dengan adanya museum ia dapat mendapat pekerjaan serta dapat mengembangkan pengetahuannya mengenai sejarah yang ada. Selain itu, museum itu sendiri merupakan salah satu tempat mereka untuk bekerja dan mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan harian mereka. Jadi, museum bukanlah suatu tempat yang hanya bermanfaat untuk satu bidang tertentu, melainkan mencakup banyak bidang lainnya.
            Berbicara mengenai pengunjung, ada perbedaan antara pengunjung domestik dan mancanegara. Pengujung mancanegara yang datang berkunjung, lebih sering melakukan riset dan penelitian. Terutama, dalam bidang sejarah dan pra-sejarah. Sedangkan untuk pengunjung domestik, mereka berkunjung hanya untuk mengisi waktu luang tanpa melupakan tujuan untuk belajar mengenai sejarah namun, Bapak Hafid menyatakan bahwa jumlah pengunjung domestik lebih sedikit dibandingkan dengan pengujung mancanegara. Hal ini sangatlah disayangkan mengingat koleksi museum merupakan koleksi dari seluruh penjuru nusantara.
            Museum Nasional juga melakukan beberapa promosi sebagai cara untuk menyebar luaskan informasi serta menambah jumlah pengunjung museum ini sendiri. Cara yang dilakukan antara lain melalui sosial media, brosur, dan memasang spanduk di depan museum. Hal yang dipromosikan oleh museum bukan hanya mengenai isi dari museum itu sendiri, melainkan mengenai acara-acara yang diselenggarakan oleh pihak museum. Banyak acara yang sudah digelar di museum ini. Tema yang diangkat dalam acara tersebut pun beragam, bukan hanya mengenai sejarah saja.
            Jumlah pengunjung di museum sangatlah mempengaruhi kehidupan museum. Jika jumlah pengunjung mencapai angka yang tinggi, hal ini menandakan bahwa manfaat museum tersebut sangatlah besar. Sedangkan, jika angka jumlah pengunjung museum rendah maka museum itu sendiri perlu meningkatkan kualitas dan daya tarik museum. Alasan mengapa Museum Nasional ini tidak sepi pengunjung adalah karena museum ini sangat memperhatikan kualitas pelayanan serta terus mengembangkan daya tarik museum. Didukung pula dengan acara-acara museum yang banyak digelar, hal ini dapat menambah daya tarik museum itu sendiri.


Artikel ini disusun oleh : 
Bernadeth Kinanthi Asri
Emily Wiputri
 Liem Nadya Javiera
Sheryn Wijaya
Tania Priscilla Wijaya
Yosephin Pebriyeni





Tidak ada komentar:

Posting Komentar