Berbicara mengenai museum di Jakarta, mungkin yang
pertama kali terlintas dalam benak adalah Museum Nasional. Museum yang telah
berdiri sejak tahun 1778 ini adalah salah satu destinasi andalan yang digemari
oleh para pelancong, baik domestik maupun mancanegara. Bangunan yang kerap kali
dijuluki Museum Gajah karena dahulu terdapat sebuah patung gajah pemberian Raja
Chulalongkorn dari Thailand pada tahun 1871. Dengan sebuah lorong kaca yang
menghubungkan gedung lama dan gedung baru, museum ini nampak luas dan megah.
Kedua gedung masing-masing memiliki satu lantai dan empat lantai, yang
dilengkapi sebuah kantin dan toko cinderamata di lantai bawah tanah.
Jika ingin melihat koleksi
patung-patung dari seluruh penjuru nusantara, pengunjung dapat mengunjungi
gedung lama lantai satu. Di sana terdapat arca peninggalan masa Hindu dan
Buddha, Ruang Sejarah Prasejarah, Rumah adat, koleksi keramik, tekstil,
etnografi, arkeologi dan perunggu. Untuk gedung baru dibagi menjadi empat
ruangan yaitu Manusia dan Lingkungan, Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi,
Organisasi sosial dan Pola Pemukiman, Khasanah Emas dan Keramik.
Koleksi-koleksi yang bernilai estetika ini diabadikan di dalam suatu ruangan
yang indah serta tertata dengan rapi. Tidak hanya dipamerkan, namun koleksi-koleksi
ini pun dirawat dan dijaga dengan baik.
Menurut Bapak Hafid, museum ini
sendiri memiliki manfaat yang sangat beragam sesuai dengan pandangan dan
kebutuhan dari masing-masing pengunjung. Hal ini mencakup bidang pendidikan,
rekreasi, dan hanya sekedar pengetahuan umum. Bagi para karyawan museum itu
sendiri, manfaat yang mereka dapat antara lain sebagai sarana penyaluran hobi
dan kesukaan mereka, contohnya Bapak Hafid sendiri yang menyukai sejarah,
sehingga dengan adanya museum ia dapat mendapat pekerjaan serta dapat
mengembangkan pengetahuannya mengenai sejarah yang ada. Selain itu, museum itu
sendiri merupakan salah satu tempat mereka untuk bekerja dan mendapat
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan harian mereka. Jadi, museum bukanlah suatu
tempat yang hanya bermanfaat untuk satu bidang tertentu, melainkan mencakup
banyak bidang lainnya.
Berbicara mengenai pengunjung, ada
perbedaan antara pengunjung domestik dan mancanegara. Pengujung mancanegara
yang datang berkunjung, lebih sering melakukan riset dan penelitian. Terutama,
dalam bidang sejarah dan pra-sejarah. Sedangkan untuk pengunjung domestik,
mereka berkunjung hanya untuk mengisi waktu luang tanpa melupakan tujuan untuk
belajar mengenai sejarah namun, Bapak Hafid menyatakan bahwa jumlah pengunjung
domestik lebih sedikit dibandingkan dengan pengujung mancanegara. Hal ini
sangatlah disayangkan mengingat koleksi museum merupakan koleksi dari seluruh
penjuru nusantara.
Museum Nasional juga melakukan
beberapa promosi sebagai cara untuk menyebar luaskan informasi serta menambah
jumlah pengunjung museum ini sendiri. Cara yang dilakukan antara lain melalui
sosial media, brosur, dan memasang spanduk di depan museum. Hal yang
dipromosikan oleh museum bukan hanya mengenai isi dari museum itu sendiri,
melainkan mengenai acara-acara yang diselenggarakan oleh pihak museum. Banyak
acara yang sudah digelar di museum ini. Tema yang diangkat dalam acara tersebut
pun beragam, bukan hanya mengenai sejarah saja.
Jumlah pengunjung di museum
sangatlah mempengaruhi kehidupan museum. Jika jumlah pengunjung mencapai angka
yang tinggi, hal ini menandakan bahwa manfaat museum tersebut sangatlah besar.
Sedangkan, jika angka jumlah pengunjung museum rendah maka museum itu sendiri
perlu meningkatkan kualitas dan daya tarik museum. Alasan mengapa Museum
Nasional ini tidak sepi pengunjung adalah karena museum ini sangat
memperhatikan kualitas pelayanan serta terus mengembangkan daya tarik museum.
Didukung pula dengan acara-acara museum yang banyak digelar, hal ini dapat menambah
daya tarik museum itu sendiri.
Artikel ini disusun oleh :
Bernadeth Kinanthi Asri
Emily Wiputri
Liem Nadya Javiera
Sheryn Wijaya
Tania Priscilla Wijaya
Yosephin Pebriyeni



Tidak ada komentar:
Posting Komentar